Menerapkan Ilmu, Mengabdi pada Warga: Kiprah Nur Hamidah Panca Murti Memimpin Lingkungan di Usia Muda

Menerapkan Ilmu, Mengabdi pada Warga: Kiprah Nur Hamidah Panca Murti Memimpin Lingkungan di Usia Muda

​Narasumber: Nur Hamidah Panca Murti (Panca) – Ketua
RT.004 RW.06, Tegal Parang, Mampang Prapatan Jakarta Selatan
& Tenaga Diperbantukan di Direktorat Perencanaan dan Kinerja UI

Pewawancara: Tim Redaksi KIM LDII Jakarta Selatan

Topik: Kepemimpinan Muda, Pelayanan Publik, dan Implementasi Nilai Luhur di Masyarakat

———–

​KIM LDII Jaksel: Halo Mba Panca, senang sekali bisa berbincang hari ini. Sebagai pembuka, bolehkah membagikan profil singkat dan kesibukan Mba Panca saat ini kepada para pembaca?

​Panca: Halo, salam kenal. Nama saya Nur Hamidah Panca Murti, biasa dipanggil Panca. Saat ini saya berusia 23 tahun. Saya merupakan lulusan S1 Ilmu Politik dengan konsentrasi Kebijakan Publik dari Universitas Bakrie. Untuk kesibukan sehari-hari, saat ini saya bekerja sebagai tenaga yang diperbantukan di Direktorat Perencanaan dan Kinerja Universitas Indonesia (UI). Selain bekerja, saya juga mengemban amanah di lingkungan tempat tinggal sebagai Ketua RT. Jadi, keseharian saya memang banyak berkaitan dengan pelayanan masyarakat sekaligus pekerjaan di bidang pemerintahan dan perencanaan.

​KIM LDII Jaksel: Di usia yang masih tergolong sangat muda, Mba Panca sudah berani mengambil tanggung jawab sebagai Ketua RT. Apa sebenarnya motivasi terbesar di balik keputusan tersebut?

​Panca: Motivasi terbesar saya sebenarnya berangkat dari latar belakang pendidikan saya di bidang Ilmu Politik, khususnya Kebijakan Publik. Selama kuliah, saya banyak mempelajari bagaimana sebuah kebijakan dirancang dan bagaimana pelayanan publik seharusnya diberikan secara prima kepada masyarakat. Selain itu, saya juga aktif di berbagai organisasi dan beberapa kali terlibat langsung dalam kegiatan pemerintahan melalui program magang. Dari rentetan pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal teori di atas kertas, tetapi tentang bagaimana kita hadir dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Ketika ada kesempatan untuk maju menjadi Ketua RT, saya melihatnya sebagai ruang yang sangat tepat untuk menerapkan ilmu yang saya pelajari secara langsung, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat saya tinggal.

​KIM LDII Jaksel: Menarik sekali. Lalu bagaimana proses pemilihan saat itu? Apakah ada keraguan dari warga mengingat usia Mba Panca yang masih sangat muda saat mencalonkan diri?

​Panca: Pemilihan Ketua RT dilaksanakan pada tanggal 2 November 2024 melalui mekanisme pemungutan suara langsung oleh warga. Saat itu terdapat tiga calon yang maju, termasuk saya sendiri. Tentu ada rasa gugup, karena pada saat itu usia saya masih 21 tahun, menjadikan saya sebagai calon yang paling muda. Saya menyadari betul sebagian warga mungkin sempat mempertanyakan apakah saya memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin. Namun, saat sesi penyampaian visi dan misi, saya menyampaikan dengan keyakinan bahwa usia bukanlah satu-satunya ukuran kemampuan seseorang dalam melayani masyarakat. Saya berkomitmen untuk bekerja secara maksimal, terbuka terhadap setiap masukan, serta memberikan pelayanan yang cepat dan bertanggung jawab. Alhamdulillah, keluarga memberikan dukungan penuh dan warga akhirnya memberikan kepercayaan besar ini kepada saya.

​KIM LDII Jaksel: Bagaimana Anda mendefinisikan gaya kepemimpinan yang Anda terapkan dalam mengayomi warga?

​Panca: Saya ingin membawa gaya kepemimpinan yang adaptif, terbuka, dan komunikatif. Saya selalu berusaha menghadapi setiap persoalan atau dinamika yang ada di warga dengan tenang. Pendekatan yang saya kedepankan adalah musyawarah dan asas kekeluargaan. Saya juga memosisikan diri sebagai Ketua RT yang mudah dihubungi, responsif terhadap kebutuhan warga, dan sebisa mungkin tidak menciptakan sekat atau jarak dengan masyarakat.

​KIM LDII Jaksel: Mengenai program kerja, apa saja yang menjadi fokus dan prioritas utama Anda selama menjabat?

​Panca: Saat ini fokus utama saya terbagi ke dalam tiga pilar prioritas:
​Peningkatan Kualitas Pelayanan Digital: Memberikan akses komunikasi langsung via WhatsApp atau telepon. Hal ini mempermudah warga untuk menyampaikan keluhan, berkonsultasi, maupun mengurus kebutuhan administrasi tanpa harus repot datang langsung ke rumah saya.
​Sinergi Program Pemerintah: Mendukung dan menyukseskan program pemerintah yang berdampak langsung, seperti pengajuan perbaikan jalan, pengaspalan, perbaikan saluran air, serta memfasilitasi bantuan alat bantu (kursi roda, tongkat bantu jalan, dan alat bantu dengar) bagi lansia dan penyandang disabilitas.
​Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan: Menjaga lingkungan secara berkala melalui kegiatan kerja bakti dan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

​KIM LDII Jaksel: Di dalam sebuah rukun tetangga pasti terdapat keberagaman usia, dari lansia hingga pemuda. Bagaimana strategi Anda merangkul dua generasi yang berbeda ini?

​Panca: Saya percaya kuncinya terletak pada komunikasi yang tepat dan rasa saling menghargai. Kepada para sesepuh atau generasi senior, saya menempatkan diri untuk banyak mendengarkan dan belajar dari pengalaman hidup mereka. Sementara kepada generasi muda, saya berusaha merangkul dan mengajak mereka untuk lebih aktif dalam kegiatan lingkungan melalui pendekatan yang lebih santai, dekat, dan terbuka. Saya ingin menjadi jembatan yang kokoh agar kedua generasi ini dapat saling mengisi dan melengkapi demi kemajuan lingkungan kita.

​KIM LDII Jaksel: Sebagai bagian dari warga LDII, apakah ada nilai-nilai khusus yang Anda pegang kuat dalam menjalankan amanah publik ini?

​Panca: Tentu ada. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan di LDII seperti menjaga kerukunan, kerja sama (gotong royong), saling menghormati, serta sifat amanah dalam menjalankan tanggung jawab menjadi fondasi utama saya. Nilai-nilai ini yang saya implementasikan secara nyata ketika melayani seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, atau golongan apa pun. Semua warga berhak mendapatkan pelayanan terbaik.

​KIM LDII Jaksel: Bekerja di Universitas Indonesia sekaligus mengurus RT tentu membutuhkan energi ekstra. Bagaimana Mba Panca melakukan manajemen waktu agar keduanya tetap profesional?

​Panca: Mengatur waktu memang menjadi tantangan tersendiri, apalagi urusan warga sering kali sifatnya mendadak. Kuncinya adalah skala prioritas dan koordinasi. Untuk keluhan atau pertanyaan darurat, saya selalu mengutamakan respons cepat melalui WhatsApp atau telepon. Sementara untuk administrasi surat-menyurat yang tidak mendesak, biasanya saya selesaikan di malam hari setelah pulang kerja. Jika ada urusan yang sangat mendesak di jam kerja, saya langsung berkoordinasi dengan sekretaris RT. Begitu pula jika ada undangan rapat formal yang berbenturan dengan jadwal kerja utama, saya akan mendelegasikannya kepada sekretaris atau humas. Prinsip saya adalah tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat tanpa mengurangi profesionalisme dalam pekerjaan utama saya di UI.

​KIM LDII Jaksel: Selama menjabat, apa tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi dan bagaimana Anda menyelesaikannya?

​Panca: Tantangan terbesar sejauh ini adalah ketika harus menjadi penengah atau mediator saat terjadi konflik antarwarga. Dalam posisi tersebut, saya dituntut untuk mendengarkan seluruh pihak secara objektif tanpa memihak, memahami akar permasalahannya, lalu bersama-sama mencari solusi terbaik melalui jalan musyawarah. Pengalaman-pengalaman lapangan seperti ini mengajarkan saya bahwa seorang Ketua RT tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin administratif, melainkan juga harus mampu berperan sebagai mediator, komunikator, dan problem solver yang andal bagi warga.

​KIM LDII Jaksel: Terakhir, apa pesan atau ajakan yang ingin Mba Panca sampaikan kepada rekan-rekan sesama Generasi Z?

​Panca: Saya ingin mengajak teman-teman Gen Z untuk membuang jauh-jauh sikap apatis terhadap lingkungan sekitar. Perubahan besar justru sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan terdekat tempat kita tinggal. Tidak semua orang harus mengambil peran sebagai Ketua RT, tetapi setiap anak muda pasti bisa berkontribusi melalui ide kreatif, tenaga, maupun kepedulian sekecil apa pun. Dengan ikut terlibat sejak sekarang, kita tidak hanya sedang membangun lingkungan yang lebih baik untuk hari ini, tetapi juga sedang menempa diri menjadi pemimpin masa depan yang memiliki empati dan kepedulian tinggi terhadap masyarakat.

-​Catatan Redaksi: Wawancara ini didasarkan pada profil aktual Nur Hamidah Panca Murti yang dirilis oleh KIM LDII Jakarta Selatan. (Kim)

Artikel Terkait