Jakarta Selatan (17/5) — Pernikahan dalam Islam bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan biologis dan emosional, melainkan juga sarana utama meraih ridha Allah SWT dan menggapai surga-Nya. Hal ini ditegaskan dalam acara “Pengajian Sarimbit Sehidup Sesurga” yang digelar oleh DPD LDII Jakarta Selatan di Masjid Baitul Fattah, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Sabtu malam.
Dewan Penasihat DPD LDII Jakarta Selatan, H. Chotob Meidi Tri Utomo, menekankan bahwa membangun keluarga harmonis adalah fondasi penting bagi masyarakat yang kuat. Pengajian yang diikuti oleh 78 pasangan suami istri dengan usia pernikahan 5-10 tahun ini bertujuan memperkuat nilai-nilai sakinah, mawaddah, dan warahmah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pemateri pertama, Rio Azadi dari Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII, mengungkapkan bahwa konsep bahasa cinta yang populer melalui teori Gary Chapman sebenarnya telah lama dipraktikkan Rasulullah SAW. “Islam sudah jauh lebih lengkap dan Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bagaimana membangun keharmonisan suami istri lewat perilaku sunnah dan perkataan beliau,” ujarnya. Rio menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda agar saling melengkapi, layaknya potongan puzzle, sehingga penting untuk terus meningkatkan pengetahuan tentang pasangan.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan rumah tangga dapat muncul di berbagai tahap pernikahan, sehingga setiap pasangan harus senantiasa mengingat tujuan utama pernikahan sebagai ibadah serta memahami kewajiban masing-masing sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Dalam sesi kedua yang dibawakan psikolog Sovia Sahid, terungkap bahwa 70% kasus konsultasi pernikahan berakar dari masalah komunikasi dan perselisihan yang muncul sejak awal menikah. Sovia memaparkan lima fase pernikahan: Bulan Madu (adaptasi, 0-2 tahun), Kekecewaan (sifat asli mulai tampak), Kesadaran (merenungi kesukaan dan ketidaksukaan pasangan), Perubahan (upaya perbaikan diri), dan Cinta Sejati (setelah 10 tahun, pasangan telah sejiwa dengan kesabaran dan proses panjang).
Sovia juga menggarisbawahi perbedaan karakter dan cara komunikasi antara laki-laki dan perempuan secara ilmiah. Perempuan rata-rata mengucapkan 21.000 kata per hari, sementara laki-laki hanya sekitar 7.000. Perempuan cenderung butuh didengar, sedangkan laki-laki lebih ringkas dan fokus pada solusi. Ia menyarankan agar pasangan sering mengenang kebaikan satu sama lain, karena laki-laki adalah makhluk logika, dan perempuan makhluk perasaan.
Lebih lanjut, Sovia menjelaskan konsep “tangki cinta” yang harus diisi dengan bahasa cinta yang sesuai, seperti kata-kata pendukung, kualitas waktu bersama, sentuhan fisik, pelayanan, serta memberi hadiah atau kejutan.
Puncak acara berupa sesi refleksi mengharukan di mana pasangan saling mengungkapkan rasa syukur, doa, dan pesan mendalam seolah malam itu adalah waktu terakhir bersama. Suasana penuh haru menyelimuti ruangan, banyak peserta meneteskan air mata.

Pengajian ditutup oleh Dewan Penasihat DPD LDII Jakarta Selatan, Kyai Aceng Karimullah yang berpesan agar pasangan selalu memohon doa dan ridha orang tua, memberi ruang suami berbakti pada orang tua, terutama ibu, dan menjadi tempat terbaik bagi anak-anak untuk mencurahkan isi hati agar mereka tidak mencari pelarian di luar.
Ketua DPD LDII Jakarta Selatan, Mulyono, menyampaikan harapannya agar pengajian ini menjadi inspirasi dan bekal praktis bagi pasangan muda dalam merawat cinta, memperkuat komunikasi, dan menapaki jalan pernikahan sebagai ibadah menuju surga. Sebab, keluarga harmonis adalah kunci masyarakat kuat dan anak-anak yang bahagia. (*)