Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal tren kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi kesehatan mental dan spiritual generasi muda di era digital. Merespons kondisi tersebut, DPD LDII Jakarta Selatan berkolaborasi dengan Komunitas Muda-Mudi Gentana Jaksel menggelar kajian inspiratif guna mengedukasi remaja agar lebih bijak dan tangguh menghadapi arus informasi.
Mengusung tema “Fomo x Jomo: Merasa Bahagia Tanpa Takut Ketinggalan Zaman”, acara yang berlangsung di Masjid Baitul Fattah, Cilandak, Jakarta Selatan pada Minggu (19/4/2026) ini dihadiri oleh ratusan peserta, mulai dari pelajar tingkat menengah pertama hingga dewasa muda.
Ustadz Muhammad Ridho Asidiqi, yang hadir sebagai pembicara utama, menyoroti kerentanan psikologis remaja yang kerap kelelahan akibat tuntutan untuk terus mengikuti tren yang tiada habisnya. Menurutnya, generasi muda perlu segera dikenalkan pada transisi menuju Joy of Missing Out (JOMO), yakni seni menikmati hidup dan merasa cukup tanpa tertekan oleh penilaian sosial.
“Poin dari saya, tidak semua tren harus diikuti karena hidup itu bukan sesuatu yang harus ikut-ikutan. Kadang, Anda hanya butuh ketenangan,” ujar Ridho di hadapan para peserta.
Ia menekankan bahwa kunci utama untuk lepas dari jerat FOMO adalah dengan memperkuat rasa syukur. Jika terus memperturutkan tren, manusia tidak akan pernah merasa puas. Sebaliknya, kebahagiaan sejati justru kerap ditemukan ketika seseorang berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial.
Langkah Mitigasi dan Penguatan Karakter
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pelaksana, Fadil Al Ubaidah, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang kumpul rutin, melainkan memiliki misi strategis untuk penguatan karakter generasi penerus.
“Melalui edukasi fenomena sosial ini, kami ingin memberikan pemahaman tentang dampak buruk FOMO terhadap kesehatan mental. Harapannya, para pemuda bisa lebih fokus pada tujuan hidup tanpa harus tertekan oleh ekspektasi lingkungan,” papar Fadil.

Lebih lanjut, Fadil menjabarkan bahwa acara ini juga menyasar pada peningkatan pemahaman agama sebagai fondasi hidup yang kokoh, sekaligus mempererat ukhuwah dan solidaritas antar-pemuda di wilayah Jakarta Selatan. Pihaknya berharap peserta dapat mengaplikasikan nilai-nilai JOMO dalam keseharian sehingga terbentuk generasi yang bijak, percaya diri, dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren negatif.
Acara ini turut mendapat dukungan penuh dari Dewan Penasehat LDII Jakarta Selatan, H. Chotob Meidi Tri Utomo, yang hadir langsung di lokasi. Kehadirannya menegaskan komitmen institusi dalam mendampingi generasi muda menuntut ilmu agama di tengah gempuran modernitas.
Melalui inisiatif ini, DPD LDII Jakarta Selatan berharap kesadaran akan kesehatan mental dan spiritual generasi muda semakin meningkat. Sebab pada akhirnya, menjadi bahagia tidak selalu berarti harus menjadi individu yang paling ‘update‘, melainkan menjadi yang paling bersyukur. (*)