Indonesia merupakan negara yang majemuk, baik dari sisi suku, agama, ras, bahasa dan budaya. ada begitu banyak ragam suku, agama dan budaya yang hidup saling berdampingan di bumi Indonesia.
Tentunya semua bisa hidup rukun dan damai dengan hadir nya Pancasila sebagai “pengikat” bangsa. Pancasila sebagai dasar negara menjamin setiap warga, suku, agama dan budaya mendapatkan hak dan perlakuan yang sama dalam kehidupan bernegara.
Oleh karena itu, Pancasila merupakan elemen penting yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan hingga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap bangsa Indonesia.
LDII sebagai entitas Islam bangsa juga berkewajiban untuk turut serta menjaga keutuhan NKRI dengan semangat Pancasila. ‘’Kami berupaya agar setiap warga LDII khususnya di Jakarta Selatan bisa andil dalam menjaga persatuan & kesatuan bangsa dengan menjadi warga yang profesional relijius, seperti aktif di Forum Lintas Ormas (FLO), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) & Forum Kerukunan umat Beragama (FKUB),” jelas Noor Rachmat, Ketua DPD LDII Kota Administrasi Jakarta Selatan Selasa ( 1/6) 2021 kemarin.
Noor Rachmat secara tegas mengungkap keaktifan LDII Jakarta Selatan dalam berbagai organisasi kemasyarakatan di Indonesia khususnya di wilayah Jakarta Selatan ini tentunya sebagai bentuk penerapan Pancasila dalam kehidupan berorganisasi.
Pesan Islam yang Inklusif Sejalan Dengan Pancasila
Sementara itu dalam siaran resminya Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengimbau agar bangsa Indonesia bisa memaknai kelahiran Pancasila pada 1 Juni ini dengan tetap menjalankan ibadah agama dengan tetap saling menghormati, toleransi hingga saling membantu.
“Hari lahir Pancasila menjadi momen untuk mengenang jasa para pendiri bangsa. Atas jasa mereka, bangsa Indonesia bisa menjalankan hak asasi yang esensial yakni memeluk agama atau keyakinan dan menjalankan ibadah,” ujar KH Chriswanto Santoso.
Menurutnya, Pancasila yang inklusif sejalan dengan nilai-nilai Islam. Inklusivitas Pancasila itu, membuat semua agama di Indonesia nyaman dan tenteram beribadah, bahkan umat Islam yang mayoritas pun turut melindungi keberagaman agama di Indonesia.
“Pancasila dan Islam itu beriringan, bahkan nilai-nilai Islam terdapat dari sila pertama hingga kelima,” ujar KH Chriswanto Santoso. Ia mengatakan, meskipun terjadi perdebatan sengit mengenai Piagam Jakarta dan terjadi kompromi dengan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, hal tersebut justru membuka ruang Islam yang inklusif.
KH Chriswanto Santoso menyitir Bung Karno, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan wujud memeluk agama yang dilandasi gotong royong, “Di dalam gotong-royong terdapat sikap saling menghormati, menghargai, toleransi, semangat membantu, tanpa meninggalkan jati diri sebagai umat Islam atau pemeluk agama tertentu,” imbuhnya.
Ia mendorong umat Islam yang inklusif, “Atas dasar prinsip Pancasila yang menjadi asas organisasi kami, dan Islam yang rahmatal lil alamin, kami mendorong warga LDII dan umat Islam umumnya untuk toleran, terbuka, saling menghargai dan menghormati tanpa meninggalkan keyakinannya,” tuturnya.
Di mata KH Chriswanto, Pancasila sebagai ideologi yang inklusif, menekankan penghormatan terhadap keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, “Dalam kondisi bangsa yang hidup di negeri yang bukan negara berdasarkan agama ataupun sekuler, justru kehidupan beragama menjadi indah. Penuh toleransi, yang memungkinkan semua umat beragama berkontribusi dalam pembangunan,” imbuhnya.
Radikalisme, pada akhirnya tidak mendapat ruang di Indonesia, begitu pengingat dari KH Chriswanto Santoso, “Menganggap paling benar sendiri, hanya menciptakan golongan atau kelompok yang radikal. Hal ini tak sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila,” imbuhnya.
Untuk itu, ia mengingatkan para tokoh agama atau sekelompok orang untuk tidak memaksakan agama atau keyakinan, karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
Ia mengingatkan, sebagai negara demokrasi yang mayoritas penduduknya umat Islam, Indonesia menjadi teladan bagi negara-negara lain, “Di Indonesia, mayoritas melindungi minoritas. Pancasila yang menjadi dasar negara, memastikan agar tidak terjadi penindasan terhadap minoritas,” pungkasnya.
KH Chriswanto mengatakan, pesan-pesan Islam yang inklusif diwakili bahkan digemakan dengan kuat oleh Pancasila. Kelahiran Pancasila menurutnya, juga merupakan cermin kebesaran hati para tokoh-tokoh Islam saat itu, “Meskipun umat Islam berjuang memerdekakan Indonesia, tokoh-tokoh agama yang lain tak kalah besar jasanya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan Pancasila jadi cermin yang elok kebesaran jiwa para pendiri bangsa itu,” imbuhnya.
Indonesia merupakan negara yang majemuk, baik dari sisi suku, agama, ras, bahasa dan budaya. ada begitu banyak ragam suku, agama dan budaya yang hidup saling berdampingan di bumi Indonesia.
Tentunya semua bisa hidup rukun dan damai dengan hadir nya Pancasila sebagai “pengikat”bangsa. Pancasila sebagai dasar negara yang menjamin setiap suku, agama dan budaya mendapatkan hak dan perlakuan yang sama dalam kehidupan bernegara. oleh karena itu, Pancasila merupakan elemen penting yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan oleh setiap bangsa Indonesia. (kim)